Niduparas Erlang Goes To UWRF 2012

Selamat kepada Niduparas Erlang sebagai salah satu penulis muda yang diundang untuk menghadiri Ubud Writers and Readers Festival 2012.

Sayembara Cerpen 2011

Para pemenang, dan panitia sayembara seusai seminar menulis bersama Kurnia Effendi.

Bedah Buku Hikayat Pemanen Ketang

Bedah buku Hikayat Pemanen Kentang, Mugya Syahreza Santosa 2011

Belistra Bergema 2011

Pose anggota Belistra dan kawan-kawan, beserta buku-buku yang dibedah dalam acara Belistra Bergema 2011.

Perjalanan Kebudayaan 2011

Perjalanan Kebudayaan yang merupakan program tahunan Belistra, kali ini menuju Ujung Kulon.

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

PENGUMUMAN NOMINE DAN CATATAN DEWAN JURI SAYEMBARA CERPEN BELISTRA 2013



CATATAN DEWAN JURI
SAYEMBARA CERPEN BELISTRA 2013


Hal pertama yang membuat Dewan Juri tersintak adalah surat pengantar dari Panitia: “Naskah yang kami terima lebih dari 500 (lima ratus) naskah. Namun, setelah kami jaring, naskah yang diikutsertakan dalam penjurian sebanyak 431 (Empat Ratus Tiga Puluh Satu).” Kami tersintak lantaran gembira, di samping tak memungkiri terbayang kerja keras yang menanti. Apalagi dalam lomba macam ini, Dewan Juri akan berhadapan langsung dengan layar komputer atau laptop, karena naskah tidak diprint atau dicetak. Saat begini rupa, kami teringat sayembara sejenis yang diadakan ketika meja penulis masih diramaikan tak-tik-treeeng mesin ketik, dan tukang pos masih menjadi orang tersibuk di dunia. Pada masa itu, sebuah lomba sastra mesti menggerakkan penulisnya ke kantor pos, membeli perangko dan lain-lain, sehingga naskah yang terkirim diasumsikan lebih “matang”, setidaknya dari sisi teknis, seorang penulis mesti benar-benar paham soal spasi, margin, hvs-folio, dan seterusnya. Disadari atau tidak, proses demikian kadang menjauhkan diri dari sikap instan dan spekulasi, dibanding zaman tekan “send” maka semua beres terkirim.
Menarik mencermati 431 cerpen BELISTRA 2013. Betapa sastra masih ditulis. Sastra masih memberi harapan, setidaknya itulah yang terpancang dengan cergas di mata dewan juri. Sastra sesungguhnya tidak pernah “mengemis” memelihara generasi. Sastra tetap ditulis, diminati, walau jelas tidak menguntungkan secara finansial. Inilah yang membuat kami gembira bersama. Ya, sayembara sastra, khususnya cerita pendek, di kalangan mahasiswa masih terus diminati, bahkan boleh dikatakan meningkat dari tahun ke tahun. Dibanding Sayembara Cerpen Belistra tahun-tahun sebelumnya pun, jumlah cerpen yang ikut bertarung tahun ini naik dua atau tiga kali lipat. Dari sebelumnya hanya berkisar antara 150-225 cerpen, kini 500 cerpen!
Akan tetapi apakah kuantitas berbanding lurus dengan kualitas? Ternyata tidak. Buktinya, setelah membaca layar demi layar, banyak sekali cerpen yang rasanya sudah tak perlu lagi lanjut dibaca. Cerpen yang baik, bagaimanapun tercermin dari paragraf pertama, bahkan kalimat pertama, termasuk juga judulnya. Jika paragraf pertama sudah meringkas plot dan meringkus tokoh seperti anak TK bercerita, bukankah ia tak akan menjanjikan apa-apa? Seringkali pula alur cerita tidak masuk akal. Berbelit-belit. Peserta kurang memahami teknik menuliskan gagasan ke dalam sebuah kalimat. Ending cerita juga jadi aneh dan kelihatan “sangat” dipaksakan. Padahal ada beberapa yang cukup mahir merangkai cerita, namun kedodoran di klimaks. Terasa, banyak sekali cerita dibuat terburu-buru oleh peserta. Mungkin tenggat dari panitia pendek, atau efek “kutukan” kantor pos yang dilupakan, entahlah. Yang paling parah, banyak peserta tidak menguasai teknis penggunaan tanda baca, sehingga menimbulkan “kekacauan” luar biasa di dalam naskah. Jika itu “kekacauan” kreatif, tentu lain cerita. Tapi ini kekacauan teknis. Padahal, untuk menjadi penulis hal teknis ini harus dikuasai (kami pikir perlu soal-soal EYD dibaca kembali). Begitu pula judul, sering dimaknai sebatas “kepala karangan” secara wadag. Padahal judul menyiratkan tema dan persfektif seorang pengarang. Nah, judul yang dibuat peserta sering tidak masuk akal, aneh, dan bombastis. Misalnya, “Persoalan Tranportasi Massal Masyarakat Ibukota: Tinjauan Kependudukan”, sudah jelas pengarangnya tak dapat membedakan ia ikut sayembara esei atau cerpen, bukan? Boleh saja ada kilah bahwa bercerita dengan naif seperti anak TK bisa jadi sebuah gaya sebagaimana dalam seni rupa, dan cerpen dan esei pun bisa diaduk sebagai gaya baru.*

Berdasarkan pengalaman membaca dan berbagai pertimbangan di atas, maka kami memutuskan 20 Nomine Sayembara cerpen Belistra 2013 (sesuai abjad):



1.      Dengkerit dan Orang Lembah Batur karya Irfan M. Nugroho-Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2.      Dua Mayat karya Irsyad (Salimun Abenanza)-STT Nuklir Batan Yogyakarta
3.      H i t a m karya Lelita Primadani-Universitas Diponegoro
4.      Kabut Sungai karya Dwi S. Wibowo-Universitas Negeri Yogyakarta
5.      Kematian Istriku karya Wishu Muhamad-Universitas Pendidikan Indonesia
6.      Kembalinya Kapal Dapunta Hyang karya Wendy Fermana-Universitas Sriwijaya
7.      M a l a b a r karya Fatih Muftih-Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang
8.      Mangsen karya Dwi Ratih Ramadhany-Universitas Negeri Malang
9.      Nu-Ra-Ni karya Hendra Purnama-Universitas Terbuka Bogor
10.  Nyala Menyala Nyala karya Dina Amalia Puspa-Universitas Indonesia
11.  Pada Suatu Hari yang Fiksi karya Gatot Zakaria Manta-Politeknik Negeri Semarang
12.  Penyadap Nira karya Ilyas Tanbeg-Universitas Muhammadiyah Makassar
13.  Pohon Keresahan karya Marsten L. Tarigan-
14.  Pohon Sedarah karya Muhammad Qadhafi-Universitas Negeri Yogyakarta
15.  Satu Episode, Recehan si Cacing Jalanan karya Novi Adriyanti-UIN Sunan Gunung Djati Bandung
16.  Sepotong Kelabu Dua Wanita karya Haeruddin-Universitas Swadaya Gunung Jati
17.  Suatu Hari Ada Hujan Bir karya Olwin Aldila Perry-Universitas Udayana
18.  Tanah Terlarang karya Septiana Jaya Mustika-Universitas Gajah Mada
19.  Tongkonan Sunyi karya Ahmad Ijazi H.-Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
20.  Trome L’oeil (Kidung Cinta Mahadewi) karya Sulfiza Ariska-Universitas Terbuka UPBJJ Yogyakarta

Demikian, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

8 Nopember 2013

Dewan Juri,
Chavchay Syaefullah-Oka Rusmini-Raudal Tanjung Banua

*) Catatan Juri hanya kami tampilkan sebagian.

Catatan:
1.       Kepada para nomine diharapkan menghubungi panitia via sms untuk konfirmasi kekutsertaan pada malam anugerah.
2.       malam anugerah dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 22 Nopember 2013

Kamis, 19 Agustus 2010

CATATAN RINGKAS

(Atas Naskah Para Peserta Sayembara)
Oleh Iwan Gunadi

Lumayan menggembirakan ketika cukup banyak mahasiswa peserta sayembara menulis esai ini memahami tema “hak asasi manusia (HAM)” tidak secara sempit, yakni hanya di wilayah politik. Meski begitu, sebagian besar mahasiswa lebih menyukai tema-tema besar dengan pembahasan yang terlalu umum. Kondisi seperti itu membuat banyak tulisan tak mampu mendalami tema secara tajam dan menukik.

Membingkai HAM dalam tema-tema kecil dan membumi merupakan upaya yang langka dalam sayembara menulis esai kali ini. Gagasan segar atau sekurangnya perspektif yang berbeda dalam memandang HAM dan peran mahasiswa sebagai pembela HAM juga tak mudah ditemukan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pemahaman para mahasiswa peserta sayembara ini terhadap tema yang ditentukan panitia masih terlalu formal, kaku, dan teoretis. Eksplorasi dan penjelajahan pemikiran di bawah payung tema itu masih sangat terengah-engah dilakukan mereka. Kenyataan tersebut dapat dipahami kalau kita memperhatikan masih sangat terbatasnya materi kepustakaan yang mampu mereka jangkau. Yang lebih memrihatinkan, dari materi kepustakaan yang mereka rujuk, sebagian besar berasal dari website atau weblog yang tak begitu dapat dipastikan kesahihan atau keakuratan informasi dan datanya. Apalagi, sumber-sumber dari dunia maya itu pun umumnya tak disebutkan secara rinci oleh mereka.

Kekecewaan juga tak sungguh-sungguh dapat ditepiskan ketika banyak mahasiswa terlalu asyik membahas HAM, sehingga lupa mengaitkannya dengan peran mahasiswa sebagai pembela HAM. Ada beberapa tulisan yang menarik tentang HAM terpaksa disingkirkan karena para penulisnya benar-benar melupakan peran mahasiswa seperti itu.

Kemampuan menulis merupakan persoalan besar lain yang dihadapi banyak mahasiswa peserta sayembara ini. Cara berpikir yang tak tertib dan sistematis yang ditunjukkan banyak tulisan membuktikan bahwa kemampuan menulis mereka masih direcoki problem mendasar tersebut. Belum lagi persoalan berbahasa yang mewadahi cara berpikir mereka. Mulai dari problem ketaktepatan penggunaan tanda baca, ketakcermatan penerapan ejaan, kesalahan penulisan kata, keterbatasan kosa kata, keruwetan sintaksis, hingga keberjejalan alenia.

Pemahaman para mahasiswa peserta sayembara ini terhadap apa yang disebut sebagai “esai” pun stereotif. Hampir semua peserta tak memahami esai sebagai suatu surat upaya yang khas, yang mencoba mempermainkan pikiran dan perasaan pembaca dengan logika dan imajinasi yang mengggoda serta tak berpretensi menyelesaikan masalah—sekurangnya tak berpretensi menawarkan solusi tunggal yang memaksa pembaca taklid dan pasrah. Hampir semua peserta cenderung memahami esai sebagaimana mereka menulis karya ilmiah atau sekurangnya karya ilmiah popular yang tetap patuh pada paradigma berpikir yang ilmiah pula, walaupun pemahaman ini pun tak mampu dituntaskan secara pas oleh kebanyakan peserta. Tak heran jika hampir semua peserta mengimbuhi tulisan mereka dengan judul-judul yang bergaya ilmiah pula. Teori dan catatan kaki pun ditebar di mana-mana. Saya tak tahu pasti apakah panitia juga memiliki pemahaman seperti itu atau sebaliknya ketika mencantumkan kata esai pada nama sayembara menulis ini. Dari keraguan tersebut, saya mengambil jalan tengah di antara kedua pemahaman itu,tapi dengan tetap mengedepankan pemahaman pertama.

Para pemenang dan nominator sayembara menulis ini, terutama kelompok pertama, mencoba berkelit dari berbagai keterbatasan yang dipaparkan di atas. Meski begitu, kalau tulisan-tulisan mereka mau dibukukan, kerja penyuntingan yang lumayan berat, terutama untuk tulisan-tulisan nominator, harus ditempuh.

Meski judulnya terkesan seperti karya ilmiah, pemenang pertama sayembara ini mampu menulis esai yang memikat dalam pemahaman pertama itu. Gagasan yang ditawarkannya pun lumayan segar, yakni bagaimana para mahasiswa yang mencoba menjadi pembela HAM memanfaatkan kearifan lokal masyarakat Sunda sebagai titik pijak. Tawaran ini seperti ingin menegasikan pandangan bahwa HAM hanya bermula dan menjadi tradisi masyarakat Barat. Cara penyajian yang runtut serta cara berbahasa yang segar, lincah, plus kosa kata yang lumayan kaya menjadi kelebihan lain esai sang kampiun ini.

Tangerang, 17 Agustus 2010-08

Tertanda,

Iwan Gunadi
Salah Seorang Juri

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites